(via danidetik)
- tere liye
Sore hari yang sendu. Langit tampak memucat. Awan hitam yang diam tak bergerak di salah satu sudut kota besar di Indonesia. Situasi yang memaksa para pengendara roda dua untuk memacu lebih cepat kendaraannya agar mereka cepat sampai ketujuan mereka masing-masing. Sore ini seperti akan turun hujan.
“Sore ini mendung ya, tapi apa mendung selalu berarti akan turun hujan ? “, Randi bertanya dalam hatinya sambil mengamati situasi jalan yang lebih mirip seperti arena balap motor. Balkon rumahnya yang kebetulan menghadap ke arah jalan membuat Randi lebih sering menghabiskan waktu di tempat ini. Melihat dengan tatapan penuh pertanyaan. Tempat ini sering menjadi taman pertanyaan randi, pertanyaan yang sering ia lontarkan kepada diri sendiri ataupun pertanyaan yang sering ia sampaikan kepada tuhan. Randi kecil memang terlalu cepat untuk mempelajari dunia ini sendiri. Kesibukan kedua orang tuanya sebagai pegawai bank membuat mereka jarang berada dirumah. Sungguh wajar apabila mereka lebih mengagungkan kepentingan jasmani daripada kepentingan rohani, baik untuk diri mereka sendiri ataupun untuk randi. anak mereka. Weekend yang seharusnya diberikan untuk randi pun terkadang mereka gunakan untuk menyelesaikan tugas kantor yang menyisa di hari kemarin. Memang, sesekali orang tua randi mengajak berlibur randi ke suatu tempat wisata yang menyenangkan, membelikan mainan-mainan bagus, dan juga membelikan pakaian yang bagus. Randi kecil hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terimakasih untuk itu semua.
Randi menghela nafas sambil melihat langit sore ini.
Bocah kecil ini sedang bersedih. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Saat ini dia hanya sedang menatap kosong ke arah jalan raya. Diayunkan kakinya maju-mundur-maju-mundur dari tempat ia duduk saat ini. Sesekali ia menghela nafas dalam-dalam, lalu menengadahkan kepalanya menatap langit. Namun seketika kening Randi mengkerut, jatungnya berdetak lebih cepat dari biasanya tapi hatinya merasa tenang dan nyaman. Ada kehangatan yang Randi rasakan ketika tatapannya melihat sebuah gerobak yang berisikan seorang bocah kecil seumurannya bersama seorang bapa paruh baya dan seorang ibu yang tampak lebih muda tengah beristirahat di dalam gerobak yang memang cukup besar untuk mereka bersama didalamnya. Mereka sedang makan bersama didalam gerobak. Satu bungkus nasi yang disantap bersama walaupun dengan lauk seadanya. Mata Randi tetap mengawasi keluarga penuh ‘kesederhanaan’ tersebut. Terlihat senyum bahagia dari bocah kecil seumurannya itu, senyum yang kini membuat hati Randi sedikit terusik. Sang bapa paruh baya terlihat lebih dahulu selesai menyantap makanan itu. Kini dia hanya menyaksikan istri dan anaknya itu melahap satu bungkus nasi hasil memohonnya pada warung tegal yang tak jauh dari tempat mereka berdiam saat ini. Disaat itu juga, bi marni datang membawakan makanan untuk Randi yang dengan seketika memecah tatapan Randi kepada keluarga kecil disebrang jalan itu. Bi, marni adalah pembantu keluarga orang tua Randi sekaligus yang mengawasi Randi ketika berada dirumah. Bi marni memang telah menjadi orang kepercayaan keluarga orang tua Randi sejak dulu, sejak Randi kecil baru lahir. Randi pun hanya diam saat Bi marni datang. Walaupun dengan nada lembut Bi marni meminta Randi untuk makan, Randi masih saja tetap diam. Ditinggalkannya di atas meja makanan tersebut karena Bi marni harus kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk kedua orang tua Randi nanti.
Sesaat setelah Bi marni pergi, Randi mengamati kembali bocah kecil di dalam gerobak itu. Dia masih tetap asyik memakan nasi yang hanya dengan sebuah tahu dan kecap manis itu. Ada yang berbeda kali ini, sang ibu yang tadinya ikut menyantap nasi bungkus itu kini hanya menyaksikan ‘pangeran’ kecilnya saja yang sedang menyantap dengan lahap. Dan sang ayah yang tidak terlihat berada didalam gerobak tersebut. Randi menyadari itu, sedikit membenarkan posisi ia duduk sambil mencari kemana bapa anak tersebut pergi. Ternyata tak jauh dari gerobak mereka, sang bapa seperti tengah mencari sesuatu diantara tumpukan barang-barang yang biasa kita sebut itu sampah. Bagi bapa paruh baya itu, tumpukan barang-barang yang tak terpakai itu dianggap sebagai sumber kehidupan dan rezeki untuk mereka. Randi masih bingung sesungguhnya apa yang tengah dicari oleh bapa paruh baya itu. Lelaki paruh baya itu kemudian tersenyum gembira ketika menemukan sebotol air mineral bekas yang masih berisi didalamnya. Randi bisa melihatnya dari guratan wajah lelaki itu kalau ia sedang bahagia karena menemukan air mineral tersebut. Bergegas bapa paruh baya itu menghampiri istri dan bocah lelaki itu. Diberikannya air mineral yang ia temukan tersebut kepada mereka. Sekali lagi Randi melihat hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. senyum yang begitu hangat dari keluarga ‘sederhana’ tersebut membuat Randi kini semakin terusik dan semakin melamun mencoba melihat dirinya lebih dalam.
Tak terasa tetesan air hujan kini mulai turun dari sang langit yang telah mengawasi Randi sejak tadi. Bergegas bapa baruh baya itu pergi dan mencari tempat berteduh untuk keluarga kecil nya tersebut. Sementara Randi masih tetap melamun, melihat dengan tatapan kosong yang jauh lebih dalam dari sebelumnya. Memang cukup berat untuk bocah 10 tahun seusia Randi jika harus memahami arti kehidupan ini seorang diri. Perlahan Randi mencoba sadar dari lamunannya. Irama dari sang hujan pun kian tak beraturan. Randi kini mengambil makanan yang ada diatas meja. Suapan demi suapan. Randi mulai memakan makanan yang dari tadi berada di atas meja itu. Walaupun hujan semakin deras, Randi tidak bergeming dari posisi duduknya saat ini. Yang Randi ingat hanya ucapan Bi marni saat bilang kepadanya “nanti nasinya nangis loh mas Randi kalau ga dimakan. kan kasian ya. itu namanya mubazir” . Derasnya tetesan hujan kini mulai membasahi wajah Randi, dan dengannya jatuh pula air mata dari mata Randi. Namun Randi masih tetap menyantap makanan itu. Kepala Randi menengadah kelangit sambil berkata dalam hati, “tuhan makanan ini sungguh enak ya. Randi ga mau bikin nasi ini nangis tuhan, makannya Randi mau makan nih. Tapi tuhan Randi mau makannya sama mamah papah juga, sama-sama. Randi mau nunjukin sama mamah papah kalau Randi ini anak baik yang ga suka bikin nasi nangis”. Ucapan syukur sederhana untuk sore itu disertai doa yang ingin disampaikan Randi untuk tuhan.
Randi cuma bisa diam setelahnya, Randi tau ayah dan ibunya sibuk, Randi pun tau yang mereka lakukan itu untuk Randi. Randi tau kalau mainan, baju bagus dan jalan-jalan itu hasil dari mereka bekerja setiap hari. Tapi yang Randi inginkan sesungguhnya bukan itu, Randi tau bukan hanya itu. Randi masih terlalu kecil untuk berkata kalau Randi lebih bahagia jika ayah dan ibu nya berada disampingnya, selalu bersamanya, mengawasi tumbuh kembang dirinya hingga ia dewasa dan bersiap untuk menjadi manusia yang sesungguhnya.
~Aku Randi
- Anonim
Tidak ada karma, yang ada adalah balasan dariNya, baik atau buruknya perbuatan :)
THIS!!!
(via 3pamungkas)
Sebut saja :
V = Veronica (nama Samaran) L = Lukman (nama Samaran ) Semuanya dimulai ketika timnas yang katanya mengatas namakan Indonesia menghadapi Malaysia, Sabtu, 1 Desember 2012 kemaren..Kenapa saya bilang mengatas namakan Indonesia ya mungkin sebagian dari kalian udah ada yang tau, atau kalau ada yang belum tau saya akan coba beri sedikit itu yang namanya penjelasan. Kisruh PSSI berbuntut panjang pada timnas kita. timnas yang seharusnya dihuni oleh seluruh pemain INDONESIA, bukan membeda-bedakan mana itu IPL apa itu ISL. Yang masih belum ngerti ngacung dulu aja, barangkali ada yang mau jawab. Hoho =DEh, ko jadi pidato gini. back to topic, "Timnas Indonesia Vs Film Korea" :
V : Indo menang ga ?
*hening sesaat*L : Kamu ga nonton timnas ? Abis tidur da ?
L : hahahaha
V : hahahahaha (jawaban berfilosofi)
L : Indonesia kalah 2-0
V : kalah sama malaysia ?
V : aku lagi ngelanjutin maraton ( atlit biasa... )
L : untuk timnas mestinya hilangin dulu mana itu ISL mana itu IPL
L : kesel urang jadinya..
V : Okeokee.. Yg pasti eleh yoo
L : nyebelin ini ahh
V : sabar ya bapake.
L : udah ga ditonton
L : chelsea dong sekarang mah :)
V : Haha iyalah mending nyari kesenangan di yang lain yaa.. (chelsea kalah juga, mana bisa seneng)
V : aku mending nonton film korea..
V : sedih banget ini filmnya
L : ahahahahahaha
L : Yang lain mah sibuk sepak bola, ieu nonton korea.
L : hahaha
L : kamu menghibur sekali ve..
V : hahaha abisan nonton juga ga ngerti.. mending nonton film korea yang aku ngerti aja deh
L : iya bener banget, ngapain kalau ga ngerti ya. lain kali mungkin bisa suka :)
L : sekarang mah belum dikasih ngerti + sukanya..
L : hahaha
V : iyaa.. belum ada motivasi buat ngerti dan suka. hehe
V : Tapi kalau dukung maa ya dukung dengan doaa..
V : kalau menang ikut seneng, kalau kalah mencoba menyabarkan yang sedih.
L : hahahahaha
*hening dalam gelimang malam dan kekalahan- Anonim
- Anonim